Home, Wife, Kids

What to Do in the Next 58 Years?

Bulan Mei lalu, saya menjalani operasi dua kali. Mengharuskan saya tidak banyak beraktivitas. Apa-apa mengandalkan mama. Lebihnya, cuma makan – tidur – nonton- baca. Anak-anak diungsikan ke rumah mertua. Karenanya, ide tulisan kali ini tak datang di tengah lamunan cuci piring. Tapi saat berbaring dalam bilik bertirai sembari menunggu lalu detik-detik yang rasanya mematikan.

Bude. Begitu panggilannya. Dirawat di bilik sebelah karena batuk, sesak. Tak bisa berbaring telentang. Pun tak bisa bangun dari tempat tidur untuk buang air, karena sesak. Usianya 88 tahun. Dulunya salah satu direktur keuangan, di BI kalau tidak salah. Anaknya satu, laki-laki. Pun di BI. Cucu dua, perempuan. Menantu satu, wanita karir punya. Karenanya, yang ditugasi merawat Bude, ya keponakannya. Kalau lagi mandi, dicari, lagi tidur malam, dipanggil-panggil. Bude pastikan mba M, selalu ada disampingnya.

Bude lucu dan ceria. Tak jarang, kami (saya, mama, dan daddy) sering dibikin ketawa dengan celetukannya. Entah karena sakit, entah karena kesal, entah karena senang, ia selalu sukses mendulang tawa dari sekitar. Saya bilang ke mama, “barangkali begitu nanti kalau kita sudah tua.” Mama bilang, “iya kalau sampai umurnya segitu.” Iya juga ya!

Saya kini 30 tahun. Pekerjaan tak punya, Anak dua. Pasangan? Jauh dari yang saya kira. Saya diiming-imingi punya usia lebih panjang dengan di-mastektomi. Saya mengaminkan punya hidup lebih lama setelah (kanker) payudara ini dibuang. Saya harus percaya bahwa saat ini saya berada pada tahap menuju kesembuhan. Modal sugesti ini membuat saya berani mengklaim diri bahwa saya pun akan mencapai usianya Bude. Artinya, saya punya peluang hidup 58 tahun lagi. Membayangkannya membuat saya mampu bercermin memandang kecacatan saya dan menjalani proses selanjutnya (jika ada kemo dll).

Namun 58 tahun itu tidaklah singkat. Lebih dari cukup untuk melihat anak-anak selesai sekolah. Selama itu, saya harus apa lagi? Tetap hidup seperti 30 tahun sebelumnya? Mengalir saja hingga tak sadar banyak mengambil keputusan yang salah. Seperti 10 tahun terakhir? Terkungkung dan terpasung karena banyak keinginan tak tercapai. Seperti 2 tahun belakangan? Saat stres semakin merajalela dan menjelma jadi kanker yang diam-diam bersarang dan memaksa payudara untuk mengkhianati saya.

Bingung dengan langkah ke depan adalah bukti bahwa saya belum bangkit dari keterpurukan. Saya harus jujur tak sekuat mereka, para survivor yang sudah saya kulik-kulik isi blognya. Bukan menolak untuk jadi kuat, bukan. Saya rasa memberi waktu untuk menikmati penderitaan wajar. Bahwa saya harus menderita sakit, yang tak pernah saya bayangkan ini sebelumnya. Bahwa saya harus terpisah jauh dari anak-anak untuk sementara waktu. Dan yang paling menyakitkan, bahwa saya belum membahagiakan diri sendiri, apalagi orangtua dan sekitar. Ke depan, saya bahkan tak tahu ingin berbuat apa. Semoga, segera saya menemukan jawabannya. Semoga.

Home, Wife, Kids

Zonk (2)

Sudah pernah dikuret? Kalau belum, Alhamdulillah semoga tidak dialami oleh ibu-ibu sekalian. Kalau sudah, ya tetap Alhamdulillah karena proses itu sudah berlalu. Tanggal 27 September 2016 adalah hari itu. Saya harus aborsi karena alasan medis yang sudah dikisahkan di postingan lalu. Berangkat dari rumah jam 8 pagi, setelah si Kakak beres berangkat sekolah, saya pun tiba di RS jam 9 pagi. Sambil keliling suapin adek Malik, barulah sekitar jam 10, saya masuk ke ruangan untuk tindakan. 

Saya masuk lewat UGD dengan membawa surat rekomendasi dari dokter di hari sebelumnya. Di RS tempat saya menjalaninya, tindakan ini digolongkan ke dalam paket aborsi dengan biaya paket sekitar Rp 8 juta. Sementara pak suami mendaftar dan mengurus administrasi rawat inap untuk sehari (harga kamar sudah termasuk ke dalam paket), saya diperiksa oleh dokter umum di UGD, diminta ganti baju (jubah pasien untuk operasi itu lho), lalu dipasangkan infus oleh perawat. Ada juga bidan yang melakukan pemeriksaan dalam (dengan jari masuk ke jalan lahir sampai ke rahim) untuk memperkirakan posisi rahim dan sebagainya. Ehm, sebetulnya saya canggung. Kalau kata si ibu bidan, “saya macam lagi periksa perawan tingting nih. Belum pernah lahir normal kan?”. Ya juga sih karena dua kali melahirka selalu lewat operasi.

Sekitar 1 jam di UGD, lalu saya berpindah ke ruang bersalin. Di sini, hanya boleh ditemani satu orang. Mama yang menemani sementara Aat dan Malik di luar. Di ruangan ini, saya diapain aja? Oh banyak.

Boleh buang air kecil dulu sebelum tindakan. Sempat ngobrol sedikit sih sama bu bidannya. Diceritain, kalau Dokternya kaget kenapa saya baru datang jam segini. Sesiang ini. Loh, dokternya ga bilang mesti datang jam berapa. Dia cuma bilang pagi. Saya pun lupa tanya pagi itu jam berapa. Ternyata menurut bidannya, tindakan aborsi itu biasanya pasien datang ba’da subuh. Pasang alat sekitar jam 8-9 pagi. Sambil menunggu alatnya bekerja selama sekitar 8 jam. Baru deh tuh tindakan kuret sama dokternya. Jadi, kalau saya baru mau dipasangkan alat sekitar jam 11, tindakannya baru bisa sore atau malahan malam. Ya ga tau toh saya, bu bidan.

Lanjut, saya dipersilakan naik berbaring di singgasana yang mulia itu dengan posisi seperti bersalin. Di sini, mulai deh tuh perasaan ga keruan. Takut, ya takut banget tapi coba diatasi dengan doa dalam hati. Pasrah. Kalau ga dilalui proses ini, ya terus gimana dong. Janin yang ga berkembang itu ya harus dikeluarkan, suka tak suka lah.

Alat pertama yang dikeluarkan bu bidan: mulut bebek. Ini pertama kali saya tau ada alat semacam ini. Bagi yang bersalin normal, pasti paham lah ya. Fungsinya, untuk membuka jalan lahir supaya sampai ke rahim. Ini nih alatnya. Ada beragam ukuran ( S, M, L) gitu. Saya tau soalnya beberapa kali bidannya mencoba ganti menyesuaikan ukuran tubuh saya. Saya tidak perlu cerita banyak lah ya soal rasa dan sensasi alat ini. Yang pasti ga nyaman karena ya kan ada benda asing masuk ke daerah intim.

Alat kedua yang keluar dari kantong ajaib bu bidan adalah laminaria. Saya ga pegang kamera tapi saya minta lihat alatnya. Saya tanya itu kayu ya. Bidannya hanya mengiyakan.

Setelah dibrowsing, ternyata itu bukan kayu tapi sejenis ganggang yang dalam keadaan kering jadi padat tapi bisa juga melentur dalam keadaan basah alias mengembang. Semakin lama terpasang di rahim, semakin mengembang. Pengembangan itu yang membuka pintu masuk ke rahim jadi semakin lebar, sehingga akhirnya tangan dokter akan muat masuk dan melakukan kuret. Saat dipasang, saya merasakan nyeri dan ngilu yang amat menusuk. Karena memang sepertinya ditusuk supaya bisa tertanam dengan baik dan tidak mudah lepas. Tapi saya pun kurang paham apa fungsi benang yang ada diujung batang laminaria ini.

Proses tidak menyenangkan ini akhirnya lewat juga. Saya lalu dipindahkan ke ruang perawatan. Si bapak pulang karena si adik menjelang waktu tidur siang.  Di ruang perawatan, saya diwajibkan puasa setelah makan siang karena jam 6 sore perkiraan tindakan akan dilakukan. Saat tindakan, akan dilakukan bius total jadi perlu puasa. Sedikit demi sedikit, laminaria bekerja. Menimbulkan rasa mules yang terus bertambah perlahan. Dicoba untuk tidur tak bisa, bolak balik sama saja. Karena mulesnya menggoda, saya jadi ingin BAB karena mulesnya sama seperti mules pengen BAB. Selama BAB saya sudah berusaha untuk tidak ngeden, berhati-hati sangat karena saya curiga sebetulnya alatnya ini menyembul keluar. Betul saja, sesaat setelah selesai BAB, kejutan terjadi. Itu alat laminarianya lepas, keluar dengan sendirinya. Bentuknya sudah menggemuk sedikit dari yang pertama saya lihat, pas kemasannya dibuka.

Keluar toilet, saya bilang ke Mama dengan santai, “Alatnya lepas. Kayaknya bakal disuruh pasang lagi deh ini.” Ah kesel, mestinya tadi tahan saja rasa ingin pup. Wes bener aja, setelah panggil perawat, saya diperiksa baru pembukaan 1. Perawatnya bilang saya mesti ke ruang bersalin lagi untuk pemasangan alat baru. Saya kembali diantar ke ruang bersalin. Diminta kembali memposisikan diri seperti sebelumnya. Tentu terbayang bagaimana rasanya. Pada kali yang pertama saja, saat jaringannya masih segar, proses pemasangan alat ini sudah tak mengenakkan. Apalagi yang kedua, saat jaringannya sudah luka. Pasrah yang membuat saya mampu melewati saat itu. Setelah beberapa kali mencoba, bidannya menyerah. Menurutnya sudah tak bisa lagi terpasang dan proses pemasangan yang gagal ini berhasil menambah bukaan 3. Bidan mengonfirmasi ini ke dokter dan dokter memutuskan memajukan tindakan menjadi jam 3 sore. Saya disuruh berbaring saja sambil menunggu. Direkam jantung juga. Selama itu, rasa mulesnya sangat terasa. Mama yang menemani hanya bisa mengusap-ngusap punggung untuk mengurangi rasa sakit dan menenangkan. Menjelang jam 3, dokter anestesi masuk ke ruangan. Yang saya ingat, dia hanya bertanya “anaknya sudah berapa?” Saya jawab, “dua dok”. Lalu saya sepertinya langsung tertidur.

Saat terbangun, mata terasa berat. Tidurnya rasa pulas sangat, seakan enggan sekali bangun. Ingin terus tidur. Samar-samar saya lihat mama duduk di samping. Tidak ada rasa nyeri sama sekali seperti sebelumnya. Damai sekali rasanya. Setelah itu, saya dipindahkan di ruang perawatan. Masih sempat tertidur hingga magrib. Malam itu juga, saya mengajukan pulang dan keluar dari RS jadi tak perlu dirawat inap. Teringat anak-anak, teringat rumah. Meski ada mertua yang menemani anak-anak, rasanya tetap ingin pulang, Kepikiran. Kangen.

Ini adalah pengalaman tak terlupakan selama hidup. Mengingatkan saya bahwa hidup itu berwarna, meski terkadang hitam pekat. Hidup juga penuh rasa, meski kadang pahitnya tak terkira.

Home, Wife, Kids

Zonk (1)

Serasa ikut kuis tapi salah menebak apa yang ada di balik layar. Hidup kembali memberikan saya sebuah kejutan yang tidak mengenakkan. Tidak pernah terpikirkan akan mengalami proses ini sebelumnya. Mengingat dua kehamilan sebelumnya yang tidak pernah bermasalah. Tapi kehamilan yang ketiga malah harus dikuret atau diaborsi.

Di suatu pagi, bulan September, saya mengalami perdarahan seperti saat menstruasi. Lumayan banyak. Kaget sewaktu tahu karena saya sudah dinyatakan hamil sejak sebulan lalu. Selain test urine, saya juga sudah memeriksakan diri ke dokter kandungan dan dinyatakan positif hamil. Meski waktu itu, ukuran kehamilan masih terlalu kecil sehingga belum terlihat ada denyut jantung dan tanda kehidupan. Hanya ada kantong janin yang juga masih kecil. Hari itu juga, saya menemui dokter kandungan langganan yang sudah membantu persalinan Syafi dan Malik di RS Grha Permata Ibu, Depok. Dokternya sempat kaget juga setelah dengar situasi saya.Saat pemeriksaan USG, terlihat ada kantong janin, sudah lebih besar daripada yang tampak sebulan lalu. Namun kosong, tidak ada kehidupan di dalamnya. Sepi. Tidak ada tanda kehidupan, apalagi detak jantung.

Oleh dokter, saya dinyatakan mengalami blighted ovum atau kondisi di mana janin tidak berkembang. Tidak ada faktor penyebab tertentu yang bisa disalahkan karena ini bisa terjadi pada siapa saja, pada kehamilan yang keberapa saja. Sederhananya ada kelainan kromosom ketika proses pembuahan terjadi. Berhasil terjadi pembuahan tapi tidak berhasil berkembang menjadi embrio dan janin. Sesimpel itu.

image

Reaksi saya? Menangis. Sedih. Sembari fokus dengan pengarahan dokter bahwa saya harus dikuret. Kata dokter, “silakan cari waktu tapi jangan terlalu lama, karena khawatir kalau dibiarkan akan semakin sering terjadi perdarahan.” “Kenapa harus dikuret dok? Apa tidak bisa lewat bantuan obat?”, saya sempat tanya. Dokter bilang karena kantong janinnya sudah terlalu tebal, usia kehamilan memasuki 2 bulan. Jadi, sudah tidak bisa ditindak dengan obat peluruh. Harus dibersihkan secara manual. Kalau pakai obat, bisa-bisa tidak bersih tuntas.

Saya dan suami hanya mendengar penjelasan dokter dan mengiyakan. Sementara dokter dan perawat mengarahkan tindakan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Kami pun memutuskan dilakukan kuret keesokan hari di tanggal 27 September 2016, secepatnya biar tuntas.

Dalam perjalanan pulang, kami sempat membisu karena masih diliputi rasa kaget dan sedih. Suami hanya bilang, “Kamu tuh istighfar. Dari kemarin bilang selalu hamilnya kebobolan. Tidak langsung menerima kehamilan di awal-awal.” Ya memang sih, di awal tahu hamil, saya sempat kaget bukan main karena tidak ada rencana untuk menambah anak. Saya sedang dalam fokus mengurus Malik dengan segala proses terapinya. Jadi, menurut saya wajar jika di awal tidak antusias dengan kondisi ini.

Tiba di rumah, saya langsung browsing tentang semua hal berkaitan dengan blighted ovum. Kurang lebih sama dengan penjelasan dokter. Ini tidak ada kaitannya dengan masalah khusus tertentu, ketidaknormalan, kondisi medis atau apapun. Hanya semata proses pembuahan yang tidak sempurna, atau bisa juga karena sel sperma atau sel telur yang kualitasnya sedang tidak bagus sehingga gagal membuahkan hasil. Masalah janin tidak berkembang bisa dialami siapa saja, meski seseorang tidak mengalami masalah pada kehamilan sebelumnya. Dan setelah proses kuret selesai, kesempatan hamil lagi dengan cara alami dan normal tetap ada. Tidak terpengaruh sama sekali.

Akhirnya, saya bisa apa. Saya hanya bisa memahami pengalaman ini sebuah pengayaan hidup. Meski tentu ada rasa kehilangan karena bagaimanapun selama 2 bulan ini saya sudah meyakini bahwa saya akan punya anak ketiga. Tapi kan ini memang di luar kendali saya. Jadi bisa apa. Orang-orang bilang mungkin ada hikmahnya. Mungkin saya memang harus fokus dulu terhadap Malik. Atau mungkin memang saya dinilai belum mampu mengurus 3 anak. Jadi saya bisa apa, selain hanya bersyukur terhadap apapun yang terjadi.

Home, Wife, Kids

Bosan dengan Reaksi

Setahun belakangan, PAM yang mengalirkan air ke rumah saya makin bagus pelayanannya. Saat pagi atau waktu-waktu puncak pemakaian, alirannya tetap deras. Pun, lumayan lebih jernih. Istilah byar-pet juga jauh berkurang. Ya sekali dua kali tentu masih dimaklumi. Seperti minggu ini dan minggu kemarin. Pasalnya, ada pipa tanam yang pecah. Nah kalau sudah begini, grup whatsapp bisa gaduh dengan keluhan ibu-ibu.

Sudah enam tahun saya menempati rumah yang sekarang. Dan baru setahun ini saya lulus dari keanggotaan ibu-ibu pengomel itu. Sebelumnya? Wah jangan ditanya. Si sumbu pendek ini selalu jadi penelepon pertama pihak PAM kalau air tiba-tiba ‘pet’. Sok kasih nasehat ke petugas sudah, kritik yang elegan juga, sampai yang menista pun  pernah. Sampai kehabisan kata-kata rasanya.  Tapi saya ga pernah ngomel di grup lho ya. Selain tak guna, ya tak tepat sasaran. Apalagi yang bakal dikeluhkan ya itu lagi itu lagi. Percuma.

Lalu, kenapa bisa sering ngomel?  Karena… di tahun-tahun lalu, air PAM rutin mati 2-3 kali dalam sebulan. RUTIN. Tanpa pemberitahuan lebih dulu. Sekali mati, bisa-bisa sampai 2-3 hari. Alasan penyebab yang paling sering adalah pemadaman listrik di bagian pengolahan. Sisanya, bisa ditebak, seputar masalah teknis dan perawatan. Selain itu, dalam keadaan normal (sedang tak ada kerusakan), volume air sering tak mencukupi di pagi hari. Mulai jam 5 pagi, bisa-bisa sudah tak kebagian air hingga menjelang siang. Ingin cuci-cuci? Tunggulah jam 11. Wah repot. Pernah karena tak ingin kesiangan, saya ganti jadwal mencuci baju di malam atau dini hari. Biar esok paginya tinggal jemur. Tapi kalau lagi kelupaan, kebablasan tidur, ya lewat.

Selama masa-masa itu, tak cuma rajin ngomel, saya juga rajin menabung air. Bahkan, punya 2 tong super besar di dapur. Tapi sayang, itu saja tak cukup. Saat air baru menyala, alirannya tak langsung sampai ke keran-keran dalam rumah. Mentok di keran yang ada di teras/garasi.  Itupun tak deras. Tong-tong raksasa yang isinya sudah terpakai terpaksa di-refill dengan mengangkut seember demi seember dari keran depan tadi. Nah kalau sudah capek ngangkut air, ketebak deh. Pasti saya angkat telepon lalu ngomel lagi ke bapak ibu di kantor PAM sana. “Tampaknya kita perlu punya tangki air. Bisa dipasang di lantai dua,” kata pak suami. Obsesi nabung air berlanjut. Kalau punya tangki air di tempat yang lebih tinggi, air kan jadi lebih lancar ngalirnya ke bawah. Buat cuci piring, biar tak repot ambil sebaskom demi sebaskom. Buat cuci baju, yang lebih utama. Apalagi, kalau pakai mesin cuci satu tabung. Yang matic itu. Yang bisa narik air sendiri itu. Yang perlu stok air selalu dalam keadaan stand-by itu.

Cukup sampai di sini? Belum! Setelan tangki saya ini masih manual. Airnya hanya dipakai saat aliran dari PAM mati. Jadi, dalam keadaan normal, keran dari dan menuju tangki dimatikan. Lantas untuk mengisinya kembali, butuh waktu agak lama. Biasanya menjelang tengah malam, saat air PAM tengah deras-derasnya mengalir dan mampu naik ke lantai 2. Harus ada ‘jaga malam’ biar air tak meluber membanjiri dapur. Maklum, kan masih manual. Kalau terlanjur ngantuk, ya terpaksa diisi besok. Kalau tak sabar menanti malam, sesiangan saya kerjanya mencicil. Bisa dibayangkan lah naik turun tangga sambil jinjing-jinjing ember air. Sekali terlepas, ember terlempar, dan byur… lantai bawah macam disapu air bah. Lama-lama cara ini melelahkan. Ditambah lagi, tangki air yang kapasitasnya 300 liter itu ternyata tak gede-gede amat. Lagi-lagi, kami merasa kekurangan. Kalau sudah begitu, rasa insecure meningkat drastis. Pesan ‘cinta’ terpaksa diterima lagi oleh para petugas PAM. Pak suami, kena juga pasti.

Reaksi saya, yang selalu itu-itu saja, tampaknya bikin bosan mereka yang terkena. Saya pun sebetulnya. Sebagai tanggapan, petugas PAM mulai inisiatif mengirim mobil tangki keliling komplek setiap kali air mati. Menawarkan air barang seember dua ember dari rumah ke rumah. Meski tak rutin pula, setidaknya logikanya jalan. Ada rasa tanggungjawab, dan ini saya hargai betul. Lain dengan pak suami, yang mulai terangsang otaknya untuk bikin penampungan air bawah tanah dengan kapasitas yang lebih besar. Saya? Tugasnya cuma ngipas-ngipasi biar jadi. Setelah sepakat, maka mulai kami menabung. Yang namanya orang kalau lagi nabung, ya ada efeknya: ga bisa terlalu longgar pakai uang. Tapi karena hasilnya nanti setimpal, ya ga apa-apa.

Kenapa bikin penampungan bukannya gali sumur? Simpel. Karena tak yakin bisa menemukan sumber air di dalam sana, padahal proses pengeboran saja sudah makan biaya besar. Sayang, kalau ada tak ada hasilnya atau kurang maksimal. Sebetulnya, bikin penampungan juga tak murah, tapi lebih pasti hasilnya karena ada sumber air yang dari PAM itu. Kenapa bikin di bawah tanah (di bawah garasi tepatnya)? Agar lebih mudah diisi ulang. Jadi, saat air PAM bangkit dari mati suri, alirannya yang kecil itu tetap bisa mengalir mudah ke penampungan bawah. Tak perlu ditunggu karena sudah terpasang pelampung yang dapat langsung menutup aliran saat kolam sudah mencapai batas maksimum. Cara pakainya saat PAM mati? Keran di tangki atas akan dibuka (manual) agar dapat mengalirkan air ke seluruh rumah. Saat tangki ini kosong, mesin pompa akan menarik air dari penampungan bawah untuk mengisi tangki di atas. Begitu seterusnya hingga aliran PAM kembali normal.

Tapi tunggu dulu, proses bikin penampungannya? Sulit. Karena kami tak ingin menggampangkan tukang, material, dan waktu. Penampungan saya kapasitasnya besar, jadi  agak dalam. Konstruksinya harus kuat karena ada di bawah garasi yang bagian atasnya selalu terparkir mobil. Lapisan harus tebal agar tak bocor atau rembes. Ini yang paling penting, karena buat apa menabung kalau yang ditabung lari entah ke mana. Peluang bocor harus ditekan sampai nol biar tak repot kelak. Biaya pengerjaan sekitar 10 juta dalam waktu hampir 2 bulan. Dikerjakan satu tukang, yang sudah kami kenal baik. Ini adalah beberapa foto selama proses pengerjaan. Meski tak sampai selesai, tapi bisa jadi gambaran.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah penampungan berfungsi, saya terbebas dari drama ‘jaga malam’ dan ‘air bah’. Tapi, ternyata masih harus berhadapan dengan reaksi membosankan itu di grup. Mereka yang masih gaduh (yang orangnya itu-itu saja), rata-rata sudah hidup lebih lama dari saya, rata-rata tinggal di komplek ini jauh sebelum saya, rata-rata mengalami masalah PAM mati lebih banyak sekian kali ketimbang saya. Beberapa punya tabungan air, tapi tak pernah cukup. Lainnya, tak punya sama sekali, meski cuma tong. Terkendala finansial? Tidak juga. Karena toh ada yang baru renovasi rumah besar-besaran, ada juga yang baru beli mobil. Yang satunya, apa betul tidak mampu beli tong air? Ah, saya tak (boleh) punya hak menghakimi. Saya sadar bahwa setiap orang punya kebutuhannya sendiri, masalahnya sendiri, cara penyelesaiannya sendiri. Soal air ini, mereka hanya belum bosan dengan reaksinya sendiri. Barangkali!

Home, Wife, Kids

Nasi Basi

Kamu tahu. Minggu lalu waktu main ke rumah Romo, aku disuruh ikut makan malam. Tahu ndak, nasinya sudah basi!” “Loh, terus?” “Waktu aku nolak, Romo bilang, makan saja. Mubazir kalau dibuang. Ya terpaksa aku ikuti saja perintahnya.” Didit ikutan tersenyum dan tiba tiba teringat nasi basi yang pernah dijumpai satu waktu di rak makan Romo. (Mangun, hlm 277)

Ini adalah sepenggal adegan yang mengesankan saya dari novel Mangun (oleh Sergius Sutanto). Saya diingatkan pada kisah masa sekolah dulu. Jadi saat ingin sarapan, saya nyendok nasi dari piring yang ada di luar penanak nasi. Porsinya masih lumayan banyak, pikir saya, jadi mesti bukan nasi sisa. Dan lagi, rasanya juga belum basi. Namun saat suapan kesekian, kakak saya ngomel. “Kamu makan yang ini? Lah, ini kan basi. Kamu ga bisa bedain apa?”, tanyanya lagi. Garang.

Saya jawab, “Ngga“.

“Emang kamu tuh ga ngerti apa-apa ya!”, tegasnya.

Jujur, saat itu saya tersinggung sangat sehingga masih mengingatnya hingga sekarang. Bukan tersinggung karena ga suka diomeli. Tapi karena omelannya itu lebay, cenderung menyudutkan. Lah kata mama saya, nasi yang saya makan itu dingin, belum sempat dipanasi, tapi ya belum basi. Dan saya, yang ga tegaan ini membuang makanan, tentu tidak akan melewatkan semua nasi dingin itu. Membuang nasi adalah hal yang peluangnya sangat kecil untuk saya lakukan. Meski, memang di rumah saya, sebetulnya tak ada pula istilah membuang makanan. Mama punya banyak binatang peliharaan yang siap menampung sisa-sisa makanan.

Pengalaman sarapan pagi itu membekas  dan tetap saya ingat. Pun, di saat dewasa kami sekarang, kakak saya -yang sok banget- masih kerap membuang nasi dingin  (bukan basi) lantaran tak sempat dimakan. Karena, ia dan keluarganya lebih senang makan di luar.  Sungguh sangat terbalik dengan kisah Romo. Saat tengah membayangkan adegan Romo dalam novel Mangun, saya seolah sedang berhadapan dengan jiwa kejujuran yang tengah melayang-layang di depan mata. Bagaimana seorang Romo yang tak pernah tega membuang makanan, bahkan pernah memakan lem kanji yang tak habis dipakai untuk membuat dekorasi gereja. Dengan garam, dibubuhinya bubur lem kanji lalu dimakan sampai habis. Di lain waktu, saat Romo tinggal di Kali Code juga beberapa kali makan nasi basi, karena dalam prinsipnya, tidak boleh ada makanan terbuang.

Singkat kata, kesederhanaan dan kejujuran Romo mengena sekali pada saya yang punya pengalaman mirip. Saya seperti diajarkan untuk lebih menghargai. Saat saya berani menghidangkan makanan, berapapun porsinya, maka saya juga wajib untuk menghabiskannya. Bagaimanapun caranya. Entah makanan itu dimasak sendiri, ataupun yang dipesan di warung makan. Jika takut tak habis, maka kurangi porsinya, atau pesan secukupnya. Jika pada akhirnya terlanjur pesan banyak atau tak suka rasanya, itupun idealnya tak boleh jadi alasan. Begitu mungkin, ya Romo?

%d bloggers like this:
%d bloggers like this:
%d bloggers like this:
%d bloggers like this:
%d bloggers like this:
%d bloggers like this: