Home, Wife, Kids

Betapa Saya Rindu Menulis

Betapa saya rindu namun tak pernah mampu lagi menuntaskannya. Banyak yang bilang, “kembalilah menulis.” Kata saya, “ingin sekali pun,” meski hanya dalam hati. Entah kemana perginya hasrat itu. Ide-ide itu. Saya tak lagi berani ambil risiko, seperti dulu. Seperti ketika saya selalu menyanggupi tawaran menulis, meski tak tahu mulai dari mana. Seperti ketika jantung terasa berhenti saat narasumber mendadak tak berhasil diwawancara. Seperti ketika panik sungguh karena tak mungkin lari dari deadline. 

Awal Juli lalu, saya temu kangen dengan rekan kerja dulu yang telah melahirkan 3 buku karyanya. Berapa hari setelahnya, berjumpa pula dengan kakak sepupu yang juga telah sukses dengan 2 novel bersahajanya. Pasti, saya iri dengan keduanya. Jangankan menghasilkan buku, menulis status di facebook pun seakan mati kata.

Siang ini, ketika saya tak juga bisa memejamkan mata, saya iseng meng-google nama sendiri. Muncul link Press Reader yang menunjukkan bahwa saya pernah nampang di tabloid Nakita edisi 19 April 2017. Saya baru ingat, memang sempat diminta quote-nya oleh penulis yang dulu adalah editor saya di majalah (Thanks to Alia Nadhiva). Wow, rindu itu kembali membuncah. Mengantarkan saya untuk memandang kembali monitor dengan jari-jari berloncatan di antara huruf. Berkeluh kesah di blog kerontang ini.

Namun rindu tinggallah rindu. Apa daya, tak mampu dibunuh.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s