Home, Wife, Kids

What to Do in the Next 58 Years?

Bulan Mei lalu, saya menjalani operasi dua kali. Mengharuskan saya tidak banyak beraktivitas. Apa-apa mengandalkan mama. Lebihnya, cuma makan – tidur – nonton- baca. Anak-anak diungsikan ke rumah mertua. Karenanya, ide tulisan kali ini tak datang di tengah lamunan cuci piring. Tapi saat berbaring dalam bilik bertirai sembari menunggu lalu detik-detik yang rasanya mematikan.

Bude. Begitu panggilannya. Dirawat di bilik sebelah karena batuk, sesak. Tak bisa berbaring telentang. Pun tak bisa bangun dari tempat tidur untuk buang air, karena sesak. Usianya 88 tahun. Dulunya salah satu direktur keuangan, di BI kalau tidak salah. Anaknya satu, laki-laki. Pun di BI. Cucu dua, perempuan. Menantu satu, wanita karir punya. Karenanya, yang ditugasi merawat Bude, ya keponakannya. Kalau lagi mandi, dicari, lagi tidur malam, dipanggil-panggil. Bude pastikan mba M, selalu ada disampingnya.

Bude lucu dan ceria. Tak jarang, kami (saya, mama, dan daddy) sering dibikin ketawa dengan celetukannya. Entah karena sakit, entah karena kesal, entah karena senang, ia selalu sukses mendulang tawa dari sekitar. Saya bilang ke mama, “barangkali begitu nanti kalau kita sudah tua.” Mama bilang, “iya kalau sampai umurnya segitu.” Iya juga ya!

Saya kini 30 tahun. Pekerjaan tak punya, Anak dua. Pasangan? Jauh dari yang saya kira. Saya diiming-imingi punya usia lebih panjang dengan di-mastektomi. Saya mengaminkan punya hidup lebih lama setelah (kanker) payudara ini dibuang. Saya harus percaya bahwa saat ini saya berada pada tahap menuju kesembuhan. Modal sugesti ini membuat saya berani mengklaim diri bahwa saya pun akan mencapai usianya Bude. Artinya, saya punya peluang hidup 58 tahun lagi. Membayangkannya membuat saya mampu bercermin memandang kecacatan saya dan menjalani proses selanjutnya (jika ada kemo dll).

Namun 58 tahun itu tidaklah singkat. Lebih dari cukup untuk melihat anak-anak selesai sekolah. Selama itu, saya harus apa lagi? Tetap hidup seperti 30 tahun sebelumnya? Mengalir saja hingga tak sadar banyak mengambil keputusan yang salah. Seperti 10 tahun terakhir? Terkungkung dan terpasung karena banyak keinginan tak tercapai. Seperti 2 tahun belakangan? Saat stres semakin merajalela dan menjelma jadi kanker yang diam-diam bersarang dan memaksa payudara untuk mengkhianati saya.

Bingung dengan langkah ke depan adalah bukti bahwa saya belum bangkit dari keterpurukan. Saya harus jujur tak sekuat mereka, para survivor yang sudah saya kulik-kulik isi blognya. Bukan menolak untuk jadi kuat, bukan. Saya rasa memberi waktu untuk menikmati penderitaan wajar. Bahwa saya harus menderita sakit, yang tak pernah saya bayangkan ini sebelumnya. Bahwa saya harus terpisah jauh dari anak-anak untuk sementara waktu. Dan yang paling menyakitkan, bahwa saya belum membahagiakan diri sendiri, apalagi orangtua dan sekitar. Ke depan, saya bahkan tak tahu ingin berbuat apa. Semoga, segera saya menemukan jawabannya. Semoga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s