Home, Wife, Kids

Zonk (2)

Sudah pernah dikuret? Kalau belum, Alhamdulillah semoga tidak dialami oleh ibu-ibu sekalian. Kalau sudah, ya tetap Alhamdulillah karena proses itu sudah berlalu. Tanggal 27 September 2016 adalah hari itu. Saya harus aborsi karena alasan medis yang sudah dikisahkan di postingan lalu. Berangkat dari rumah jam 8 pagi, setelah si Kakak beres berangkat sekolah, saya pun tiba di RS jam 9 pagi. Sambil keliling suapin adek Malik, barulah sekitar jam 10, saya masuk ke ruangan untuk tindakan. 

Saya masuk lewat UGD dengan membawa surat rekomendasi dari dokter di hari sebelumnya. Di RS tempat saya menjalaninya, tindakan ini digolongkan ke dalam paket aborsi dengan biaya paket sekitar Rp 8 juta. Sementara pak suami mendaftar dan mengurus administrasi rawat inap untuk sehari (harga kamar sudah termasuk ke dalam paket), saya diperiksa oleh dokter umum di UGD, diminta ganti baju (jubah pasien untuk operasi itu lho), lalu dipasangkan infus oleh perawat. Ada juga bidan yang melakukan pemeriksaan dalam (dengan jari masuk ke jalan lahir sampai ke rahim) untuk memperkirakan posisi rahim dan sebagainya. Ehm, sebetulnya saya canggung. Kalau kata si ibu bidan, “saya macam lagi periksa perawan tingting nih. Belum pernah lahir normal kan?”. Ya juga sih karena dua kali melahirka selalu lewat operasi.

Sekitar 1 jam di UGD, lalu saya berpindah ke ruang bersalin. Di sini, hanya boleh ditemani satu orang. Mama yang menemani sementara Aat dan Malik di luar. Di ruangan ini, saya diapain aja? Oh banyak.

Boleh buang air kecil dulu sebelum tindakan. Sempat ngobrol sedikit sih sama bu bidannya. Diceritain, kalau Dokternya kaget kenapa saya baru datang jam segini. Sesiang ini. Loh, dokternya ga bilang mesti datang jam berapa. Dia cuma bilang pagi. Saya pun lupa tanya pagi itu jam berapa. Ternyata menurut bidannya, tindakan aborsi itu biasanya pasien datang ba’da subuh. Pasang alat sekitar jam 8-9 pagi. Sambil menunggu alatnya bekerja selama sekitar 8 jam. Baru deh tuh tindakan kuret sama dokternya. Jadi, kalau saya baru mau dipasangkan alat sekitar jam 11, tindakannya baru bisa sore atau malahan malam. Ya ga tau toh saya, bu bidan.

Lanjut, saya dipersilakan naik berbaring di singgasana yang mulia itu dengan posisi seperti bersalin. Di sini, mulai deh tuh perasaan ga keruan. Takut, ya takut banget tapi coba diatasi dengan doa dalam hati. Pasrah. Kalau ga dilalui proses ini, ya terus gimana dong. Janin yang ga berkembang itu ya harus dikeluarkan, suka tak suka lah.

Alat pertama yang dikeluarkan bu bidan: mulut bebek. Ini pertama kali saya tau ada alat semacam ini. Bagi yang bersalin normal, pasti paham lah ya. Fungsinya, untuk membuka jalan lahir supaya sampai ke rahim. Ini nih alatnya. Ada beragam ukuran ( S, M, L) gitu. Saya tau soalnya beberapa kali bidannya mencoba ganti menyesuaikan ukuran tubuh saya. Saya tidak perlu cerita banyak lah ya soal rasa dan sensasi alat ini. Yang pasti ga nyaman karena ya kan ada benda asing masuk ke daerah intim.

Alat kedua yang keluar dari kantong ajaib bu bidan adalah laminaria. Saya ga pegang kamera tapi saya minta lihat alatnya. Saya tanya itu kayu ya. Bidannya hanya mengiyakan.

Setelah dibrowsing, ternyata itu bukan kayu tapi sejenis ganggang yang dalam keadaan kering jadi padat tapi bisa juga melentur dalam keadaan basah alias mengembang. Semakin lama terpasang di rahim, semakin mengembang. Pengembangan itu yang membuka pintu masuk ke rahim jadi semakin lebar, sehingga akhirnya tangan dokter akan muat masuk dan melakukan kuret. Saat dipasang, saya merasakan nyeri dan ngilu yang amat menusuk. Karena memang sepertinya ditusuk supaya bisa tertanam dengan baik dan tidak mudah lepas. Tapi saya pun kurang paham apa fungsi benang yang ada diujung batang laminaria ini.

Proses tidak menyenangkan ini akhirnya lewat juga. Saya lalu dipindahkan ke ruang perawatan. Si bapak pulang karena si adik menjelang waktu tidur siang.  Di ruang perawatan, saya diwajibkan puasa setelah makan siang karena jam 6 sore perkiraan tindakan akan dilakukan. Saat tindakan, akan dilakukan bius total jadi perlu puasa. Sedikit demi sedikit, laminaria bekerja. Menimbulkan rasa mules yang terus bertambah perlahan. Dicoba untuk tidur tak bisa, bolak balik sama saja. Karena mulesnya menggoda, saya jadi ingin BAB karena mulesnya sama seperti mules pengen BAB. Selama BAB saya sudah berusaha untuk tidak ngeden, berhati-hati sangat karena saya curiga sebetulnya alatnya ini menyembul keluar. Betul saja, sesaat setelah selesai BAB, kejutan terjadi. Itu alat laminarianya lepas, keluar dengan sendirinya. Bentuknya sudah menggemuk sedikit dari yang pertama saya lihat, pas kemasannya dibuka.

Keluar toilet, saya bilang ke Mama dengan santai, “Alatnya lepas. Kayaknya bakal disuruh pasang lagi deh ini.” Ah kesel, mestinya tadi tahan saja rasa ingin pup. Wes bener aja, setelah panggil perawat, saya diperiksa baru pembukaan 1. Perawatnya bilang saya mesti ke ruang bersalin lagi untuk pemasangan alat baru. Saya kembali diantar ke ruang bersalin. Diminta kembali memposisikan diri seperti sebelumnya. Tentu terbayang bagaimana rasanya. Pada kali yang pertama saja, saat jaringannya masih segar, proses pemasangan alat ini sudah tak mengenakkan. Apalagi yang kedua, saat jaringannya sudah luka. Pasrah yang membuat saya mampu melewati saat itu. Setelah beberapa kali mencoba, bidannya menyerah. Menurutnya sudah tak bisa lagi terpasang dan proses pemasangan yang gagal ini berhasil menambah bukaan 3. Bidan mengonfirmasi ini ke dokter dan dokter memutuskan memajukan tindakan menjadi jam 3 sore. Saya disuruh berbaring saja sambil menunggu. Direkam jantung juga. Selama itu, rasa mulesnya sangat terasa. Mama yang menemani hanya bisa mengusap-ngusap punggung untuk mengurangi rasa sakit dan menenangkan. Menjelang jam 3, dokter anestesi masuk ke ruangan. Yang saya ingat, dia hanya bertanya “anaknya sudah berapa?” Saya jawab, “dua dok”. Lalu saya sepertinya langsung tertidur.

Saat terbangun, mata terasa berat. Tidurnya rasa pulas sangat, seakan enggan sekali bangun. Ingin terus tidur. Samar-samar saya lihat mama duduk di samping. Tidak ada rasa nyeri sama sekali seperti sebelumnya. Damai sekali rasanya. Setelah itu, saya dipindahkan di ruang perawatan. Masih sempat tertidur hingga magrib. Malam itu juga, saya mengajukan pulang dan keluar dari RS jadi tak perlu dirawat inap. Teringat anak-anak, teringat rumah. Meski ada mertua yang menemani anak-anak, rasanya tetap ingin pulang, Kepikiran. Kangen.

Ini adalah pengalaman tak terlupakan selama hidup. Mengingatkan saya bahwa hidup itu berwarna, meski terkadang hitam pekat. Hidup juga penuh rasa, meski kadang pahitnya tak terkira.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s