Home, Wife, Kids

Zonk (1)

Serasa ikut kuis tapi salah menebak apa yang ada di balik layar. Hidup kembali memberikan saya sebuah kejutan yang tidak mengenakkan. Tidak pernah terpikirkan akan mengalami proses ini sebelumnya. Mengingat dua kehamilan sebelumnya yang tidak pernah bermasalah. Tapi kehamilan yang ketiga malah harus dikuret atau diaborsi.

Di suatu pagi, bulan September, saya mengalami perdarahan seperti saat menstruasi. Lumayan banyak. Kaget sewaktu tahu karena saya sudah dinyatakan hamil sejak sebulan lalu. Selain test urine, saya juga sudah memeriksakan diri ke dokter kandungan dan dinyatakan positif hamil. Meski waktu itu, ukuran kehamilan masih terlalu kecil sehingga belum terlihat ada denyut jantung dan tanda kehidupan. Hanya ada kantong janin yang juga masih kecil. Hari itu juga, saya menemui dokter kandungan langganan yang sudah membantu persalinan Syafi dan Malik di RS Grha Permata Ibu, Depok. Dokternya sempat kaget juga setelah dengar situasi saya.Saat pemeriksaan USG, terlihat ada kantong janin, sudah lebih besar daripada yang tampak sebulan lalu. Namun kosong, tidak ada kehidupan di dalamnya. Sepi. Tidak ada tanda kehidupan, apalagi detak jantung.

Oleh dokter, saya dinyatakan mengalami blighted ovum atau kondisi di mana janin tidak berkembang. Tidak ada faktor penyebab tertentu yang bisa disalahkan karena ini bisa terjadi pada siapa saja, pada kehamilan yang keberapa saja. Sederhananya ada kelainan kromosom ketika proses pembuahan terjadi. Berhasil terjadi pembuahan tapi tidak berhasil berkembang menjadi embrio dan janin. Sesimpel itu.

image

Reaksi saya? Menangis. Sedih. Sembari fokus dengan pengarahan dokter bahwa saya harus dikuret. Kata dokter, “silakan cari waktu tapi jangan terlalu lama, karena khawatir kalau dibiarkan akan semakin sering terjadi perdarahan.” “Kenapa harus dikuret dok? Apa tidak bisa lewat bantuan obat?”, saya sempat tanya. Dokter bilang karena kantong janinnya sudah terlalu tebal, usia kehamilan memasuki 2 bulan. Jadi, sudah tidak bisa ditindak dengan obat peluruh. Harus dibersihkan secara manual. Kalau pakai obat, bisa-bisa tidak bersih tuntas.

Saya dan suami hanya mendengar penjelasan dokter dan mengiyakan. Sementara dokter dan perawat mengarahkan tindakan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Kami pun memutuskan dilakukan kuret keesokan hari di tanggal 27 September 2016, secepatnya biar tuntas.

Dalam perjalanan pulang, kami sempat membisu karena masih diliputi rasa kaget dan sedih. Suami hanya bilang, “Kamu tuh istighfar. Dari kemarin bilang selalu hamilnya kebobolan. Tidak langsung menerima kehamilan di awal-awal.” Ya memang sih, di awal tahu hamil, saya sempat kaget bukan main karena tidak ada rencana untuk menambah anak. Saya sedang dalam fokus mengurus Malik dengan segala proses terapinya. Jadi, menurut saya wajar jika di awal tidak antusias dengan kondisi ini.

Tiba di rumah, saya langsung browsing tentang semua hal berkaitan dengan blighted ovum. Kurang lebih sama dengan penjelasan dokter. Ini tidak ada kaitannya dengan masalah khusus tertentu, ketidaknormalan, kondisi medis atau apapun. Hanya semata proses pembuahan yang tidak sempurna, atau bisa juga karena sel sperma atau sel telur yang kualitasnya sedang tidak bagus sehingga gagal membuahkan hasil. Masalah janin tidak berkembang bisa dialami siapa saja, meski seseorang tidak mengalami masalah pada kehamilan sebelumnya. Dan setelah proses kuret selesai, kesempatan hamil lagi dengan cara alami dan normal tetap ada. Tidak terpengaruh sama sekali.

Akhirnya, saya bisa apa. Saya hanya bisa memahami pengalaman ini sebuah pengayaan hidup. Meski tentu ada rasa kehilangan karena bagaimanapun selama 2 bulan ini saya sudah meyakini bahwa saya akan punya anak ketiga. Tapi kan ini memang di luar kendali saya. Jadi bisa apa. Orang-orang bilang mungkin ada hikmahnya. Mungkin saya memang harus fokus dulu terhadap Malik. Atau mungkin memang saya dinilai belum mampu mengurus 3 anak. Jadi saya bisa apa, selain hanya bersyukur terhadap apapun yang terjadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
%d bloggers like this: