Seriously?

Ketika Agama dan Kemanusiaan Tak Sejalan

Mulanya, saya berkesempatan membaca novel Silence-Hening karya Shusaku Edo secara tidak sengaja. Bukan karena tertarik pada tema Kristianitas saat membaca sinopsis di belakang buku, tapi lebih kepada aroma-aroma penderitaan dan penganiayaan yang terendus dari dalamnya. Tentang dilema yang mematikan sisi rohani: antara mengkhianati keyakinan atau kemanusiaan?

Buku Silence mengisahkan perjalanan pastor Portugis, Rodrigues, yang ditugaskan sebagai misionaris untuk melestarikan Kristianitas yang sempat bertumbuh di Jepang. Selain itu, ia juga punya misi lain yakni menemukan mantan gurunya, Ferreira, yang dikabarkan telah murtad. Pada abad ke-17 atau dikenal dengan periode Edo di Jepang, Kristianitas dilarang keras. Para penganutnya dikejar-kejar, dipaksa menjadi murtad,  dan dibunuh. Singkat cerita, Rodrigues pada akhirnya mengikuti jejak murtad sang guru, menjadi seorang penganut Buddha, menjadi abdi Jepang dan menetap di Jepang hingga akhir hidupnya. Setelah terpaksa menyangkal keimanannya dengan cara menginjak fumie — sebuah papan yang ditempeli gambar Maria dan Yesus –, otomatis ia sudah dikeluarkan dari misi dan seluruh haknya sebagai pastor dicabut.

Menyangkal Agama demi Kemanusiaan

Dalam memerangi Kristianitas, pihak berwenang (dalam cerita diwakili oleh tokoh bernama Inoue) di Jepang menyadari bahwa membunuh para pengikut dan pastor yang menolak penyangkalan hanya akan menciptakan perlawanan tanpa akhir. Sebab akan datang para misionaris baru dan muncul para pengikut baru. Mereka pun mengganti strategi dengan cara yang dinilai lebih efektif ketimbang siksaan fisik, ancaman dan eksekusi yaitu pemurtadan para pastor yang merupakan akar dari tumbuhnya Kristianitas di Jepang. Beberapa pastor sebelumnya menjelaskan kepada Inoue bahwa esensi keselamatan dalam Kristianitas bukan sekedar menggantungkan diri kepada Tuhan. Orang yang bersangkutan juga harus mempertahankan kekuatan hatinya dengan sekuat tenaga. Dengan begitu, mendapatkan penyangkalan seseorang terhadap agamanya, meski hanya di mulut saja, adalah akhir dari keimanannya.

Hal ini sesuai dengan bunyi ayat Injil Matius 10: 32-33 yang disampaikan Rodrigues dalam salah satu dialognya, “Kuperintahkan dia agar selalu mengingat ucapan Tuhan kami : Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di surga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-ku yang di surga.” Dalam cerita, Rodrigues pula-lah yang kemudian melakukan pengingkaran ini. Bukan karena tak tahan akan siksaan fisik tapi karena alasan kemanusiaan. Untuk menjatuhkan Rodrigues, Inoue mengurungnya dalam penjara yang dekat dengan lobang penyiksaan penduduk sipil. Ia dapat mendengar erangan dan rintihan mereka yang disiksa. Sesuatu yang menyiksa batinnya. Para tawanan akan dilepaskan jika Rodrigues menyangkal keimanannya. Sebaliknya, jika ia menolak dan tetap bertahan, para tawanan akan terus disiksa sampai mati. Ferreira berusaha meyakinkan Rodrigues untuk mengikuti jejaknya yang dulu juga diperlakukan demikian. Karena tak tahan lagi menyaksikan begitu banyak orang yang menderita, ia pun menyerah. Baginya, karya seorang misionaris yang sesungguhnya adalah berguna bagi orang lain, membantu orang lain. Seorang pastor akan merasa terisolasi kalau hidupnya tidak berguna bagi sesama. Ini jauh lebih penting daripada tugas lain yang diberikan oleh Gereja.

Dengan menginjak fumie, Rodrigues sadar bahwa ia telah dianggap sebagai noda hitam dalam sejarah misionaris dan dianggap mengkhianati rekan sesama pastor. Namun ia terus berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tak pernah mengkhianati Tuhannya. Ia merenung bahwa manusia tidak berhak menghakimi. Tuhan mengetahui kelemahan kita, melebihi siapa pun. Sebuah penghiburan yang terus ia berikan kepada diri sendiri. Setelah peristiwa penyangkalan, ia diberikan nama Jepang dan ditugaskan untuk menulis buku tentang pengingkaran terhadap agamanya. Namun ada catatan yang menemukan bahwa beberapa pelayannya dicurigai masih memeluk ajaran Kristen secara sembunyi-sembunyi dan memiliki beberapa barang yang dianggap benda suci orang Kristen. Demikian hidup Rodrigues (nama Jepangnya Okada San’emon) berjalan hingga akhirnya wafat karena sakit.

Mengabaikan Kemanusiaan demi Agama

Sayangnya, betapapun agama  mengajarkan pedoman hidup untuk berbuat baik terhadap sesama, tetap saja pengamalannya tak sejalan. Pertentangan antara kemanusiaan dan agama selalu ada. Kasus Pilkada DKI baru-baru ini adalah contoh relevan yang menyisakan catatan cacat dan luka tentang kemanusiaan. Salah satu artikel oleh Tempo online memberitakan penolakan beberapa masjid menshalatkan jenazah yang sebelumnya memilih calon gubernur tak seiman. Tak sedikit pula umat Muslim yang mudah sekali mengkafirkan dan memunafikkan orang lain hanya karena punya pandangan dan pendapat berbeda.

Selain itu, seperti dilansir dari media Tribunnews.com, Komnas HAM mencatat pelanggaran HAM meningkat selama penyelenggaraan pilkada DKI. Terutama pada poin kebebasan beragama dan berkeyakinan, misalnya dalam bentuk ujaran kebencian tentang agama dan rasisme yang disebarkan di media sosial. Hal ini tak terjadi hanya di DKI Jakarta, tapi juga pada Sulawesi Utara. Sebagai provinsi yang penduduknya mayoritas menganut agama Nasrani, mereka membalas diskriminasi yang terjadi di Jakarta kepada rumah ibadah milik umat muslim setempat.

Juga, gerakan unfollow dan unfriend marak di media sosial. Lebih jauh, ada juga yang menghapus akunnya karena tak tahan dengan viralnya nada-nada kebencian. Hubungan pertemanan yang terjalin sekian tahun seolah tak ada artinya. Pernikahan antara dua orang yang berbeda pendapat menjurus ke debat panas. Seakan asing, tak pernah saling mengenal, dan hanya ingin saling menyakiti.

Politik yang Memisahkan

Dia yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudara dalam kemanusiaan (Imam Ali bin Abi Thalib). Jika iman dan kemanusiaan menimbulkan pertikaian dan kebencian, maka faktor politik-lah yang kerap menjadi pemicunya. Pada contoh kasus pembantaian umat Kristen di Jepang misalnya. Dalam buku War and Religion : An Encyclopedia of Faith and Conflict (2017) oleh (ed) Jeffrey M. Shaw Ph.D.,Timothy J. Demy Ph.D, disebutkan bahwa mulanya misionaris Ordo Jesuit (Serikat Yesus) datang untuk menyebarkan agama Katolik melalui perdagangan yang terjalin antara Portugis dan Jepang. Di bawah pimpinan Francis Xavier, para misionaris datang dengan membawa ajaran Katolik Roma pada tahun 1549. Di awal kedatangannya, mereka diterima dengan sangat baik dan berhasil mengkristenkan banyak penduduk asli. Para pemeluk agama yang baru hidup berdampingan dengan damai bersama penganut agama Budha mayoritas.  Ordo Jesuit bahkan mengambil peran dalam menjalankan pemerintahan Nagasaki, yang menjadi pusat perdagangan Jepang, terutama dengan negara-negara barat. Tahun 1600, penduduk lokal Jepang yang mengakui dirinya Kristen mencapai 300.000 orang. Para daimyo atau pembantu tetap Shogun juga termasuk di dalamnya.

Namun perkembangan agama Kristen yang pesat membuat penguasa menjadi khawatir. Ajaran Kristen bertolak belakang dengan sistem masyarakat feodal sehingga menimbulkan ancaman politik di masa yang akan datang. Misalnya, ajaran Kristen menolak pemerintahan yang tidak berkeadilan seperti pembayaran upeti dan tidak mengakui adanya dewa-dewa Shinto. Untuk mencegah akibat-akibat yang merugikan wibawa pemerintah nantinya, maka sejak tahun 1612, dilakukan penindasan tegas terhadap agama Kristen. Kapal dagang asing dan orang asing dilarang masuk pelabuhan Jepang. Para misionaris asing diusir. Mereka yang bertahan di Jepang bersama dengan para penganut agama Kristen lokal diburu, disiksa serta dipaksa untuk murtad.

Pengaruh politik dalam perang antara kemanusiaan dan agama juga tercermin dalam pilkada DKI tahun 2017. Saya memang tidak akan menyentuh ranah privasi soal keyakinan dalam memilih calon gubernur muslim atau non-muslim. Karena ini adalah dapur pribadi setiap orang. Saya hanya akan fokus pada tindak pelanggaran kemanusiaan yang dilakukan oleh sesama manusia, khususnya umat Muslim pada contoh kasus yang tersebut di atas. Tidak menshalatkan jenazah hanya karena berbeda pilihan politik adalah kemunduran besar dalam hidup beragama. Pun, mengkafirkan orang lain dan terlalu percaya diri akan masuk surga. Pernahkah membaca cerpen Robohnya Surau Kami oleh A.A Navis. Seorang tidak dijamin masuk surga meski selama hidupnya sudah dan hanya fokus beribadah, tanpa bekerja, tanpa bersosialisasi. Sebagai umat Muslim yang beradab dan beriman, mengapa tidak menanggapi kasus Ahok secara elegan. Tak perlu demo dengan memaki, provokasi bernada kebencian, dan mengintimidasi pihak yang berbeda pandangan. Cukup dengan menuntut dia minta maaf depan publik dan tidak memilih dalam kontes. Sebuah sanksi sosial yang jauh lebih fair di mata saya.

Bersatu melawan Ahok sama sekali bukan soal kebangkitan umat Muslim, tapi soal mengalahkan lawan politik yang berbeda agama. Perhatikan, kata ‘lawan politik’. Apapun yang berkaitan dengan politik, sangat mungkin mengorbankan segala untuk mencapai kepentingan, termasuk agama dan kemanusiaan. Seorang muslim dengan mudah dikafirkan ketika ia berbeda pandangan dan mengaku tak tahan dengan kaum yang katanya tengah mati-matian membela agama. Semudah itulah pelanggaran kemanusiaan terjadi karena faktor politik.

Dalam kasus Ahok, saya yakin bahwa kekhilafan katanya dibesar-besarkan oleh pihak lawan politik untuk menjatuhkannya dalam Pilkada DKI. Saya dikelilingi oleh suami dan keluarganya yang kerap ikut memberi nada sumbang tentang sosok Ahok. Kata penista agama, anjuran tidak memilih penista agama, tulisan bernada kebencian, kerap muncul dalam grup whatsapp keluarga. Namun jika saya berpendapat lain tentang hal ini, maka saran yang disampaikan ke saya : Cobalah belajar agama lebih lagi. Nutup aurat saja belum. Rajin ngaji aja dulu.  Dari sini, saya jadi mempertanyakan: apa mungkin semakin tinggi keimanan seseorang, maka semakin mati pula rasa kemanusiaan di dalamnya? Sebuah pertanyaan yang menegaskan kembali judul tulisan ini: ketika agama tak sejalan dengan kemanusiaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s