Home, Wife, Kids

Bosan dengan Reaksi

Setahun belakangan, PAM yang mengalirkan air ke rumah saya makin bagus pelayanannya. Saat pagi atau waktu-waktu puncak pemakaian, alirannya tetap deras. Pun, lumayan lebih jernih. Istilah byar-pet juga jauh berkurang. Ya sekali dua kali tentu masih dimaklumi. Seperti minggu ini dan minggu kemarin. Pasalnya, ada pipa tanam yang pecah. Nah kalau sudah begini, grup whatsapp bisa gaduh dengan keluhan ibu-ibu.

Sudah enam tahun saya menempati rumah yang sekarang. Dan baru setahun ini saya lulus dari keanggotaan ibu-ibu pengomel itu. Sebelumnya? Wah jangan ditanya. Si sumbu pendek ini selalu jadi penelepon pertama pihak PAM kalau air tiba-tiba ‘pet’. Sok kasih nasehat ke petugas sudah, kritik yang elegan juga, sampai yang menista pun  pernah. Sampai kehabisan kata-kata rasanya.  Tapi saya ga pernah ngomel di grup lho ya. Selain tak guna, ya tak tepat sasaran. Apalagi yang bakal dikeluhkan ya itu lagi itu lagi. Percuma.

Lalu, kenapa bisa sering ngomel?  Karena… di tahun-tahun lalu, air PAM rutin mati 2-3 kali dalam sebulan. RUTIN. Tanpa pemberitahuan lebih dulu. Sekali mati, bisa-bisa sampai 2-3 hari. Alasan penyebab yang paling sering adalah pemadaman listrik di bagian pengolahan. Sisanya, bisa ditebak, seputar masalah teknis dan perawatan. Selain itu, dalam keadaan normal (sedang tak ada kerusakan), volume air sering tak mencukupi di pagi hari. Mulai jam 5 pagi, bisa-bisa sudah tak kebagian air hingga menjelang siang. Ingin cuci-cuci? Tunggulah jam 11. Wah repot. Pernah karena tak ingin kesiangan, saya ganti jadwal mencuci baju di malam atau dini hari. Biar esok paginya tinggal jemur. Tapi kalau lagi kelupaan, kebablasan tidur, ya lewat.

Selama masa-masa itu, tak cuma rajin ngomel, saya juga rajin menabung air. Bahkan, punya 2 tong super besar di dapur. Tapi sayang, itu saja tak cukup. Saat air baru menyala, alirannya tak langsung sampai ke keran-keran dalam rumah. Mentok di keran yang ada di teras/garasi.  Itupun tak deras. Tong-tong raksasa yang isinya sudah terpakai terpaksa di-refill dengan mengangkut seember demi seember dari keran depan tadi. Nah kalau sudah capek ngangkut air, ketebak deh. Pasti saya angkat telepon lalu ngomel lagi ke bapak ibu di kantor PAM sana. “Tampaknya kita perlu punya tangki air. Bisa dipasang di lantai dua,” kata pak suami. Obsesi nabung air berlanjut. Kalau punya tangki air di tempat yang lebih tinggi, air kan jadi lebih lancar ngalirnya ke bawah. Buat cuci piring, biar tak repot ambil sebaskom demi sebaskom. Buat cuci baju, yang lebih utama. Apalagi, kalau pakai mesin cuci satu tabung. Yang matic itu. Yang bisa narik air sendiri itu. Yang perlu stok air selalu dalam keadaan stand-by itu.

Cukup sampai di sini? Belum! Setelan tangki saya ini masih manual. Airnya hanya dipakai saat aliran dari PAM mati. Jadi, dalam keadaan normal, keran dari dan menuju tangki dimatikan. Lantas untuk mengisinya kembali, butuh waktu agak lama. Biasanya menjelang tengah malam, saat air PAM tengah deras-derasnya mengalir dan mampu naik ke lantai 2. Harus ada ‘jaga malam’ biar air tak meluber membanjiri dapur. Maklum, kan masih manual. Kalau terlanjur ngantuk, ya terpaksa diisi besok. Kalau tak sabar menanti malam, sesiangan saya kerjanya mencicil. Bisa dibayangkan lah naik turun tangga sambil jinjing-jinjing ember air. Sekali terlepas, ember terlempar, dan byur… lantai bawah macam disapu air bah. Lama-lama cara ini melelahkan. Ditambah lagi, tangki air yang kapasitasnya 300 liter itu ternyata tak gede-gede amat. Lagi-lagi, kami merasa kekurangan. Kalau sudah begitu, rasa insecure meningkat drastis. Pesan ‘cinta’ terpaksa diterima lagi oleh para petugas PAM. Pak suami, kena juga pasti.

Reaksi saya, yang selalu itu-itu saja, tampaknya bikin bosan mereka yang terkena. Saya pun sebetulnya. Sebagai tanggapan, petugas PAM mulai inisiatif mengirim mobil tangki keliling komplek setiap kali air mati. Menawarkan air barang seember dua ember dari rumah ke rumah. Meski tak rutin pula, setidaknya logikanya jalan. Ada rasa tanggungjawab, dan ini saya hargai betul. Lain dengan pak suami, yang mulai terangsang otaknya untuk bikin penampungan air bawah tanah dengan kapasitas yang lebih besar. Saya? Tugasnya cuma ngipas-ngipasi biar jadi. Setelah sepakat, maka mulai kami menabung. Yang namanya orang kalau lagi nabung, ya ada efeknya: ga bisa terlalu longgar pakai uang. Tapi karena hasilnya nanti setimpal, ya ga apa-apa.

Kenapa bikin penampungan bukannya gali sumur? Simpel. Karena tak yakin bisa menemukan sumber air di dalam sana, padahal proses pengeboran saja sudah makan biaya besar. Sayang, kalau ada tak ada hasilnya atau kurang maksimal. Sebetulnya, bikin penampungan juga tak murah, tapi lebih pasti hasilnya karena ada sumber air yang dari PAM itu. Kenapa bikin di bawah tanah (di bawah garasi tepatnya)? Agar lebih mudah diisi ulang. Jadi, saat air PAM bangkit dari mati suri, alirannya yang kecil itu tetap bisa mengalir mudah ke penampungan bawah. Tak perlu ditunggu karena sudah terpasang pelampung yang dapat langsung menutup aliran saat kolam sudah mencapai batas maksimum. Cara pakainya saat PAM mati? Keran di tangki atas akan dibuka (manual) agar dapat mengalirkan air ke seluruh rumah. Saat tangki ini kosong, mesin pompa akan menarik air dari penampungan bawah untuk mengisi tangki di atas. Begitu seterusnya hingga aliran PAM kembali normal.

Tapi tunggu dulu, proses bikin penampungannya? Sulit. Karena kami tak ingin menggampangkan tukang, material, dan waktu. Penampungan saya kapasitasnya besar, jadi  agak dalam. Konstruksinya harus kuat karena ada di bawah garasi yang bagian atasnya selalu terparkir mobil. Lapisan harus tebal agar tak bocor atau rembes. Ini yang paling penting, karena buat apa menabung kalau yang ditabung lari entah ke mana. Peluang bocor harus ditekan sampai nol biar tak repot kelak. Biaya pengerjaan sekitar 10 juta dalam waktu hampir 2 bulan. Dikerjakan satu tukang, yang sudah kami kenal baik. Ini adalah beberapa foto selama proses pengerjaan. Meski tak sampai selesai, tapi bisa jadi gambaran.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah penampungan berfungsi, saya terbebas dari drama ‘jaga malam’ dan ‘air bah’. Tapi, ternyata masih harus berhadapan dengan reaksi membosankan itu di grup. Mereka yang masih gaduh (yang orangnya itu-itu saja), rata-rata sudah hidup lebih lama dari saya, rata-rata tinggal di komplek ini jauh sebelum saya, rata-rata mengalami masalah PAM mati lebih banyak sekian kali ketimbang saya. Beberapa punya tabungan air, tapi tak pernah cukup. Lainnya, tak punya sama sekali, meski cuma tong. Terkendala finansial? Tidak juga. Karena toh ada yang baru renovasi rumah besar-besaran, ada juga yang baru beli mobil. Yang satunya, apa betul tidak mampu beli tong air? Ah, saya tak (boleh) punya hak menghakimi. Saya sadar bahwa setiap orang punya kebutuhannya sendiri, masalahnya sendiri, cara penyelesaiannya sendiri. Soal air ini, mereka hanya belum bosan dengan reaksinya sendiri. Barangkali!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s