Seriously?

Melek Traveling Ketimbang Properti

 Go. At least one a year, to a place you have never been before.

There’s no more reason, go travel and see the world.

No matter where I go, travel is my destination.

Quit your job and go travel.

Book a ticket and just leave.

Just Go. Travel.

You’ll ever go until you go –Your Passport–

Belakangan, saya sering melihat ajakan traveling di laman depan facebook. Lewat sebaran poster atau meme yang disebarkan akun ke akun. Pun, lewat iklan promo tiket murah dari maskapai penerbangan. Semua kalimatnya hampir serupa, impulsif namun dikemas secara bijak. Seakan punya daya tarik magis yang membuat saya (juga kita) mengiyakan dan ingin segera menenteng koper. Belakangan lagi, saya juga punya seorang kawan yang senang sekali posting kegiatan travelnya. Lengkap dengan foto dan caption berisi kata-kata pencerah atau motivasi. Intinya, ya masih seputar ajakan traveling dan manfaatnya. Tawaran menggiurkan serupa juga kerap dijual oleh beberapa fanpage traveling yang kerap menyajikan gambaran destinasi wisata dengan konsep fotografi yang apik. Istilah lainnya, instagramable. Salah satu artikel dalam situs jalan-jalan yang saya temukan memuat judul yang mengandung umpan seperti “Karena Dunia Nggak Seluas Daun Kelor, Pergilah Ke Luar Negeri Minimal Sekali Seumur Hidup”. Dan di bagian tengah artikel tersebut bahkan memuat kutipan yang juga menggelitik dan lagi-lagi berkesan impulsif bagi saya :

Travel while you’re young and able. Don’t worry about the money, just make it work. Experience is far more valuable than money will ever be.” 

“Pergi selagi muda dan mampu. Ga perlu mikirin duit, yang penting jalan. Pengalaman jauh lebih berharga ketimbang uang.”

Generasi Millennial dan Tren Traveling

Sebelum cerita lebih jauh, saya merasa perlu menekankan definisi millennial lebih dulu. Beberapa literatur mengemukakan batasan usia yang beda-beda tipis dari setiap generasi. Misalnya dalam buku Gen Y Now: Millennials and the Evolution of Leadership (2014) oleh Buddy Hobart dan Herb Sendek, generasi millennial adalah yang lahir antara tahun 1977-1995. Sementara dalam buku The Millennials: Connecting to America’s Largest Generation (2011) oleh Thom S. Rainer dan Jess W. Rainer, generasi millennial adalah yang lahir antara tahun 1980-2000. Rentang waktu yang kedua tampaknya lebih banyak dijadikan rujukan meski saya tak ingin terlalu ketat juga menjadikannya pedoman. Dengan memberikan toleransi di awal dan penghujung tahun, saya menganggapnya sebagai masa-masa transisi. Misal, secara usia, saya beda 3 tahun dengan kakak nomor dua. Tapi secara akademis, kami hanya beda 2 angkatan sehingga lingkungan pergaulan dan tren yang kami ikuti dapat dikatakan masih sama. Dengan demikian, saya coba menggabungkan batasan dari kedua literatur di atas sehingga mendapatkan rentang tahun kelahiran millennial yang lebih panjang yakni dari tahun 1977-2000. Lalu, jika boleh meminjam penggolongan yang dilakukan oleh Yoris Sebastian dalam bukunya, Generasi Langgas: Millennials Indonesia, saya akan merujuk pada millennial golongan ke-3 yaitu The Family Millennials dan golongan ke-2 yaitu The Working Millennials. Mengapa? Karena kedua golongan inilah yang secara umum sudah berada pada tahap aman pertama kehidupan, yakni punya pekerjaan. Artinya lagi, punya penghasilan sebagai modal awal untuk memenuhi kebutuhan.

Generasi millennial pun tak dapat dipisahkan dari tren traveling. Dalam setahun, mereka dapat berlibur lebih dari satu kali. Hasil polling terbaru dilakukan oleh majalah Femina pada 745 responden berusia 18-36 tahun. Hasilnya, 77 persen mengaku melakukan liburan 1-3 kali setiap tahun; 16 persen berlibur 4-6 kali, 7 persen sisanya berlibur setiap bulan. Ini belum ditambah lagi dengan aktivitas libur dadakan yang cenderung dilakukan oleh wisatawan millennial Indonesia (sekitar 31 persen) seperti disebutkan dalam artikel Viva berdasarkan data dari Singapore Tourism Board.

Traveling dalam Negeri

Data dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia mencatat bahwa dari tahun 2001-2013 terjadi peningkatan jumlah perjalanan yang dilakukan wisatawan nusantara secara bertahap, rata-rata sebesar 1-3 persen. Untuk tahun 2013, misalnya tercatat ada sekitar 250 juta kali perjalanan atau meningkat 1,93 persen dari tahun sebelumnya. Masih pada tahun yang sama, kelompok usia yang melakukan perjalanan terbanyak dapat dibagi menjadi 3 yakni: 1) usia 35-44  tahun sebesar 19,6 persen ; 2) usia 25-34 tahun sebesar 17,8 persen ; dan 3) < 15 tahun sebesar 21,1 persen. Kelompok ke-3 dapat diabaikan dengan pertimbangan kelompok ini adalah anak-anak dari dua kelompok sebelumnya yang bepergian mengikuti orangtuanya. Dengan demikian, mari fokus pada kelompok 1 dan kelompok 2 yang rentang usianya dapat dimasukkan ke dalam 2 golongan sebelumnya: the working millennials dan the family millennials. Dalam sekali perjalanan wisata dalam negeri, rata-rata biaya yang dikeluarkan adalah sekitar Rp 700-800 ribu per orang. Biaya ini sudah mencakup akomodasi, jasa pariwisata, konsumsi, belanja, angkutan, hiburan/rekreasi, dan lainnya. Ini tentu biaya paling minimal yang bisa dijangkau. Karena jika berbicara kelas menengah dan menengah ke atas, besarannya akan jauh bertambah mengikuti fasilitas premium yang dipilih.

Traveling Luar Negeri

Mengutip artikel bisniswisata.co.id, Data World Tourism Organization (WTO) mencatat jumlah wisatawan Indonesia yang bepergian ke luar negeri pada tahun 2015 adalah sebesar 6,31 juta wisatawan. Sementara itu dalam artikel sindonews, survei berjudul TripBarometer yang dilakukan oleh situs perjalanan terbesar di dunia, TripAdvisor mencatat bahwa pada tahun 2013, wisatawan Indonesia rata-rata menghabiskan Rp 30,842 juta. Sayangnya, data tentang kelompok usia yang melakukan perjalanan keluar negeri belum dapat diketahui secara pasti. Namun sebagai informasi umum, menurut studi yang dilakukan oleh Visa, rumah tangga di seluruh dunia yang memiliki rata-rata pendapatan berkisar US$ 20.000 per tahun merupakan kontributor terbesar dalam 90 persen pengeluaran internasional orang yang bepergian saat ini. Jika merujuk pada hasil temuan karir.com, hanya sekitar 17 persen millennial yang memiliki penghasilan minimal Rp 7,5 juta per bulan (setara US$ 6758). Kalaupun digabung dengan penghasilan istri yang setara nilainya maka satu rumah tangga millennial memiliki penghasilan Rp 15 juta per bulan (setara US$ 13517). Artinya, rumah tangga millennial yang mampu bepergian keluar negeri meskipun ada namun jumlahnya masih belum signifikan.

Travel vs Properti

Masih soal hasil survei tahun 2016 yang dilakukan oleh situs karir.com dan rumah123.com, disebutkan bahwa generasi millennial (lahir tahun 1981-1994) Jabodetabek hanya dapat mencicil rumah dengan kisaran harga tertinggi Rp 300 juta. Itupun jika memiliki penghasilan minimal Rp 7,5 juta dengan perhitungan cicilan KPR 30 persen gaji atau sekitar Rp 2,2 juta per bulan. Sementara faktanya, hanya sekitar 17 persen profesional millennial yang memiliki penghasilan Rp 7,5 juta. Sayangnya, hanya tersisa 1 persen hunian yang harganya berkisar Rp 300 juta dan letaknya pun di pinggiran Jakarta. Sementara itu, data dari Badan Pusat Statistik mencatat pada tahun 2015, kepemilikan rumah milik sendiri baru mencapai 51,09 persen di provinsi DKI Jakarta. Ini mencakup semua lapisan generasi sehingga jika dibagi-bagi lagi menurut kelompok usia, persentase generasi millennial dalam hal kepemilikan rumah masih terbilang kecil.

Sebagai salah satu yang tergolong ke dalam generasi millennial, saya sedikit ‘terbakar’ oleh temuan di atas. Bagaimana tidak? Rumah adalah kebutuhan primer yang sejatinya dipenuhi oleh semua orang. Masih ingat dong dengan si tiga serangkai sandang, pangan, papan (meski bagi saya pribadi, poinnya tambah satu: pendidikan). Tergelitik pada awalnya, saya lantas ingin mengaitkan lemahnya daya beli rumah generasi millenial dengan tren bepergian yang belakangan semakin marak. Kenapa bukan mempersoalkan gaya hidup pada umumnya atau masalah pemenuhan kebutuhan? Ah, kalau yang ini, sudah mesti dialami oleh hampir semua lapisan generasi, bukan hanya millennial.

Keinginan untuk bepergian dalam pola pikir millennial sangat dipengaruhi oleh akses informasi yang tanpa batas, melalui internet dan didukung oleh media yang kompatibel seperti ponsel pintar. Dalam buku What is Psychology: Essentials, Ellen E. Pastorino dan Susann M. Doyle-Portillo (2012) mencantumkan hasil penelitian Pew Research Center tahun 2010 yang menyebutkan ketimbang generasi sebelumnya, generasi millennial punya kecenderungan lebih besar untuk terikat dengan ponsel. Jika generasi X hanya sekitar 68 persen, baby boomers sekitar 50 persen dan silent generation sekitar 20 persen, maka sekitar 83 persen millennial terbiasa tidur dengan ponsel di sampingnya. Ini memungkinkan mereka untuk browsing lebih dulu sebelum terlelap.

Dalam buku Brand Activation: Implementing the Real Drivers of Sales and Profit (2016) oleh Alex McKay, Graham Brown, Neale Skalberg, disebutkan bahwa generasi millennial adalah generasi yang mendapat banyak sekali kemudahan dalam hidupnya. Sebagai contoh, pagi tadi saya bertemu teman yang cerita karena tak tahu (malas mencari tahu tepatnya) di mana tempat membeli kapur sirih, akhirnya dia pesan di toko online yang kebetulan jual. Di kali lain, adik ipar saya yang malas disuruh beli kue kesukaan ibunya (karena alasan macet dan tokonya yang selalu ramai) memutuskan untuk pesan lewat aplikasi Go-Food. Dan beberapa saat sebelum menulis ini, saya sempat melihat video iklan yang mengusung kampanye Hidup Tanpa Batas. Pesannya seputar kemudahan hidup yang didapat dengan memakai jasa antar jemput dan titip beli dari Go-Jek.

Masih menurut Alex McKay, Graham Brown, Neale Skalberg, segala kemudahan itu menciptakan generasi yang cenderung menjadi konsumtif, impulsif, dan kurang sabar. Biasanya juga kurang toleransi dan malas menunggu/antri. Karakter ini berperan besar bagi millennial (khususnya golongan pekerja dan belum berkeluarga) dalam menyikapi informasi terkait wisata yang tersuguh di depan mata apalagi informasi jalan-jalan dan hiburan sangat mudah tersebar secara viral. Tak heran jika mereka jadi mudah ikut-ikutan dan tak segan memakai tabungan yang tadinya diposkan untuk kebutuhan lain. Bagi sebagian orang, ini bukan masalah jika didukung dengan finansial yang memadai. Masalah baru muncul bagi sebagian lainnya yang kerap tergoda untuk bepergian namun harus mengorbankan salah satu dari kebutuhan primer, dalam hal ini papan atau properti. Tak dapat dipungkiri, sendiri ataupun bersama keluarga, melakukan perjalanan itu selalu membutuhkan anggaran yang besar. Untuk tingkat penghasilan minimal Rp 7,5 juta/bulan (yang dinilai mampu mencicil rumah), keinginan berlibur tak bisa sering-sering diwujudkan. Cukup sekali setahun memanfaatkan jatah cuti untuk refreshing. Apalagi, yang punya penghasilan di bawah itu.

Mengikuti tren traveling tanpa mencemaskan uang (seperti pada ajakan impulsif di atas) rasanya kurang tepat. Tapi, saya tidak akan mengklaim itu sebagai tindakan yang salah karena toh setiap orang memiliki prioritas. The Washington Post menyebutkan hasil survei dari Fannie Mae’s National Housing mencatat 93 persen dari kelompok usia 25-34 tahun yang masih menyewa rumah mengaku sangat ingin memiliki rumah sendiri. Dan bagi para millennial secara umum, rendahnya kesadaran untuk memiliki properti kurang lebih berakar dari sumber yang sama: ketidakmampuan secara finansial. Hal ini juga berlaku pada millennial Indonesia. Hanya sebagian kecil pekerja millennial yang memiliki posisi, pekerjaan, dan penghasilan yang bagus. Sisanya masih harus berjuang menemukan pekerjaan dan penghasilan yang layak. Meskipun uang adalah alasan utamanya, namun millennial boleh saja mengelak dari kenyataan ini dan bersembunyi di balik mitos lama, bahwa punya rumah itu urusan nanti kalau sudah menikah. Seorang teman (perempuan) bahkan pernah mengaku meski ia mampu membeli rumah, namun baginya rumah adalah sesuatu yang idealnya disiapkan oleh suaminya kelak jika ia telah menikah. Dan bagi mereka, menikah justru adalah hal yang ingin ditunda karena alasan ingin fokus berkarir atau ingin menikmati hidup lebih dulu (salah satunya lewat traveling).

Di samping itu, bagi para millennial, pola pikir yang berlaku adalah membeli rumah lewat KPR artinya sama dengan memiliki tabungan beku. Penghasilan tiap bulan yang didapat, sekitar 30 persen bagiannya merupakan tabungan mati yang harus disetorkan sebagai cicilan KPR. Padahal jika ‘tak terkunci’, dapat digunakan untuk memuaskan gaya hidup dan pelesir sampai bulan berikutnya. Hal ini sejalan dengan hasil survei CBRE Global Research Oktober 2016 seperti dikutip dari situs rumah.com yang menyebutkan millennial lebih memilih menghabiskan 1/4 dari penghasilan untuk hiburan dan berbelanja. Bahkan, frekuensinya cukup sering, rata-rata antara 7-9 hari per bulan.

Ditambah lagi, tidak adanya titik temu antara kemampuan finansial dengan model rumah idaman. Menurut Wasudewan, Country Manager rumah.com, hunian masa depan yang ingin dimiliki oleh generasi millennial harus sesuai standar gaya hidup yang terbilang tinggi,. Misal, kualitas terbaik, tipe rumah luas, fasilitas lengkap (dekat mal, sekolah favorit, rumah sakit), dan lokasi strategis yang artinya waktu tempuh lebih cepat ke tempat kerja. Hunian dengan spesifikasi ini tentu tak bisa lagi dijangkau hanya dengan Rp 300 juta.

Pada akhirnya, setiap generasi akan berhadapan pada persoalan yang sama: bagaimana caranya memenuhi kebutuhan. Bagi generasi millennial saat ini, persoalan itu akan dapat terjawab jika mereka mau kembali pada definisi kebutuhan primer. Memprioritaskan punya rumah, sedini mungkin plus menurunkan standar gaya hidup. Artinya, menyesuaikan spek hunian dengan ukuran kantong. Punya ‘tabungan beku’ berbentuk rumah jauh lebih penting ketimbang sering bepergian lantaran merasa termotivasi untuk sesaat. Apalagi, kalau hanya untuk pamer foto atau ganti foto profil di tempat wisata baru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s