What I Like to Cook

Suatu Waktu, Memasak …

Adalah hal yang tak pernah saya bayangkan akan rutin dilakukan. Hari-hari di masa kecil saya tak akrab dengan namanya proses memasak. Ya, sesekali pasti diminta bantuan untuk belanja bahan di warung, menghaluskan bumbu, menyiangi sayur, memotong, mengupas. Adegan setelah itu, berlanjut di sofa dengan piring di tangan, buku di pangkuan, baca.

Setelah menikah, saya pun tak langsung pandai. Maklum, dadakan jadi istri dan ibu. Plus, jadi karyawan pula yang badannya selalu rasa rontok saban hari. Urusan makanan, saya bergantung pada tante (almarhumah) yang sehari-hari tinggal di rumah. Disinggung mertua itu, sering. Makan hati, sudah pasti. Tapi untunglah, masa itu berlalu sudah. Jauh mundur ke belakang, ke waktu yang tak ingin saya ingat-ingat sebetulnya.

Setelah tante harus pergi, saya kehilangan tempat bergantung. Berhenti kerja adalah solusi yang menurut pak suami (dan mungkin saya) paling tepat. Mengingat, saat itu si bapak harus kerja jauh di luar pulau. Dalam kondisi dia yang jauh dan saya yang lebih dari 10 jam sehari tak di rumah, siapa mau tanggung urusan anak? Menyerahkan ke pengasuh, rasanya penuh risiko. Mengandalkan orangtua kandung, rasanya tak tega pula. Kata bapak mertua saya, “Anak itu mesti diurus sama ibunya, bukan sama neneknya.” Pilihan, sebetulnya.

Sejak saat itu, memasak jadi kebutuhan yang rutin. Meski, yang makan hanya 2 orang. Kakak saya bilang, “Kalau cuma berdua, ngapain repot masak. Ke warung, beli nasi bungkus kan jadi.” Tapi saya sudah terlanjur ketularan suami yang selalu ingin makan makanan rumah (saya akui didikan keluarganya sangat bagus dalam hal ini). Tak perlu harus mewah atau ribet, sayur bening-ikan goreng jadilah. Wah, kalau harus balik lagi ke masa-masa sebelum ada anak, saya terpaksa cerita juga deh. Bersama pak suami, saya makan ikan goreng hampir tiap hari, 3 kali dalam sehari. Untuk pagi, bekal makan siang, hingga makan malam. Ikannya dibeli dari warung sayur dekat kontrakan. Sekali beli cukup untuk makan sehari. Ga bisa  nyetok karena belum punya kulkas. Ga bisa terlalu kreatif gonta-ganti menu, karena peralatan masaknya serba satu: satu tungku kompor, satu penggorengan, satu panci. Abis masak yang satu, cuci segera biar bisa langsung untuk masak yang lain. Dan di masa-masa itu, nahan banget untuk makan di luar. Beli maksudnya. Sayang-sayang kan, uangnya mending ditabung buat beli rumah.

Tapi ya sudah, itu kan dulu. Waktu berhenti kerja, saya sudah menetap di rumah sendiri. Mungil, namun berasa surga. Karena sudah di rumah sendiri-lah, jadi pe-de nambah satu per satu peralatan rumahJadi semangat browsing segala resep, ikut grup masak di FB, stalking blog-blog tukang masak yang resepnya sudah teruji, langganan tivi kabel demi bisa tuh nonton AFC (Asian Food Chanel). Plus, gaul sama tukang sayur tiap pagi. Dari sini, sudah kebayang dong, kalau saya jadi betah di dapur. Hasilnya ada yang terpaksa berakhir di tong sampah, tapi banyak juga yang berhasil masuk ke perut. Beruntung, pak suami ga keberatan jadi tong sampahnya. Apa saja yang tersaji, dilahap meski mungkin harus dengan setengah hati. Ini berlanjut hingga menjadi sebuah pola hingga kini. Saya tak pernah ribet dengan urusan tanya resep ke mama atau mertua. Yang satu beda pulau, yang satu beda kota. Mupeng? Langsung googling. Ga sampai juga minta diajari teman atau inisiatif belajar masak bersama. Bagi saya, yang susah bergaul ini, membayangkan saja (masak bersama) itu sudah tak mungkin.

Seiring waktu, saya paham bahwa masak adalah kebutuhan. Bahkan, ketika saya pamer hasil masakan di media sosial, saya tidak melakukannya untuk diakui orang. Semata rasa puas akan pencapaian saya dalam memenuhi kebutuhan itu. Soal rasa, jangan biarkan lidah menuntut terlalu tinggi. Soal pertanyaan maut yang tiap hari menghantui : “Masak apa hari ini?”, biarkan selera yang menuntun. Suami saya, yang cuek itu, tak pernah sekalipun membantu menjawab pertanyaan ini. Apa yang sedang ingin dimakan hari itu, apa yang dia suka. Sampai detik ini, belum pernah minta sekalipun.  Sekali dua, tentu saya pernah ngadat. Apalagi kalau bukan karena jenuh, bingung, malas. Tapi pak suami masa bodoh. Masak tetap harus, karena ada mulut-mulut yang minta makan. Beli makanan di luar, sesekali, tergantung situasi dan kondisi yang mengharuskan. Pola ini kemudian turut menekan peluang hadirnya mulut-mulut pemilih (terhadap masakan rumah). Apapun yang terhidang, harus termakan. Sesekali anak-anak mungkin boleh kompromi, tapi pak suami tidak. Dengan begini, saya jadi bisa terus belajar. Mereka pun jadi lebih punya rasa menghargai. Bahwa apa yang dihasilkan di dapur sendiri, sejatinya sulit tergantikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s