Seriously?

Made in China : Kualitas atau Inovasi?

Suatu waktu, saya mendengar keluhan dari pak suami yang baru membeli mainan untuk anak-anak. Lantaran tak tahu cara mainnya, si bapak rada komplain, “Apa sih mainan yang dibikin China ini?” Padahal cara mainnya simpel banget, kan tertera di kemasan. Mainan yang dimaksud berupa kapsul-kapsul yang kalau direndam dalam air, akan berubah jadi aneka bentuk, seringnya sih binatang. Namun sama si bapak itu tadi, kapsulnya tidak langsung dicemplungin, tapi dibuka dulu. Mungkin karena proses perendaman yang salah itu, maka hasil binatangnya jadi kurang sempurna. Entahlah. Yang jelas, pikiran saya saat itu inginnya nyeletuk, “Produk China itu, yang lebih cocok dikomentari adalah kualitasnya, bukan ide penciptaannya.”

Mempertanyakan kualitas produk buatan China memang lebih pas rasanya. Dalam bukunya, Enough to Make You Sick : Tainted Counterfeit Imports, Jerry A. Grunor, memaparkan banyak skandal yang ditimbulkan oleh produk China di Amerika Serikat. WorldNetDaily, sebuah studi oleh pemerintah tahun 2007 melaporkan bahwa Consumer Product Safety Commision (CPSC) telah menarik 152 produk impor dari pasaran, 107 diantaranya adalah made/manufactured in China. Dalam temuan ini, tak hanya soal kualitas produk yang dikeluhkan, tapi juga risiko lain dari segi keamanan. Dalam komoditas produk mainan misalnya, sebanyak 1,5 juta buah kereta Thomas and Friends ditarik pada bulan Juni 2007. Pasalnya, cat yang digunakan adalah cat murahan yang mengandung zat merkuri. Fakta ini cukup mengejutkan para orangtua yang sudah terlanjur memfasilitasi anak-anak dengan mainan ini. Lebih lagi, mengingat mainan ini sudah dijual sejak Januari 2005 hingga Juni 2007 lewat distributor RC2, sebuah perusahan AS di Illinois.

Masih menurut Grunor, ada 3 mainan lain yang diproduksi di China yang tercatat ditarik penjualannya: 1) Mainan Kids Station bernama Little Tikes Chit’N Chat Toy Cell Phones. Ponsel mainan ini tercatat menimbulkan 3 kasus anak tertelan komponen kecil ponsel yang mudah patah atau lepas; 2) Mainan figur Floppy Friends Horse Toys yang diimpor oleh Toy Investments, Inc di Washington. Sama seperti sebelumnya, mainan ini menggunakan cat yang mengandung merkuri; 3) Mainan helikopter remote yang bernama Sky Champion. Helikopter indoor wireless ini diimpor oleh Tradewinds International Enterprises, Inc., San Fransisco sempat beredar selama Juni – November 2007. Menggunakan baterei (rechargable) yang berisiko menyebabkan kebakaran. TWIE sudah menerima 2 laporan terkait kebakaran ringan tanpa cidera.

Sebagai tindak lanjut dari kampanye inspeksi beberapa negara sejak Juni 2007,  direktur General Administration of Quality Supervision, Inspection and Quarantine, Li Changjiang mengambil langkah setelah lebih dulu bertemu dengan EU Consummer Commissioner Meglena Kuneva di Beijing. Pada Juni 2008, Li mengumumkan pencabutan izin ekspor 700 pabrik dari total 3.540 pabrik mainan di China. Izin dicabut setelah perusahaan dinilai gagal dalam menjaga standar keamanan produknya.

Namun meski masalah kualitas sempat marak di tahun 2007, tampaknya geliat produksi dan ekspor mainan China tidak terpengaruh. Menurut jurnal Global and China Toy Industry Report tahun 2010, China tetap menjadi produsen sekaligus eksportir mainan terbesar dunia. Sekitar 2/3 mainan di dunia diproduksi di China. Tahun 2009, nilai ekspor mainan mencapai $7,8 milyar dengan sentra produksi dan ekspor tersebar di beberapa wilayah. Ada sekitar 26.000 perusahaan mainan yang tersebar di seluruh China, baik meliputi produsen, distributor, maupun pengecer. Sentra produksi berada di Guangdong sebagai pusat mainan elektrik dan plastik, Jiangsu dan Shanghai sebagai pusat mainan mewah, Zhejiang sebagai pusat mainan kayu, dan Shandong.

Dari pencapaian dalam hal kuantitas, lantas apakah produksi mainan China berkembang pesat karena giatnya produsen China berinovasi? Belum tentu. Muncul kecurigaan yang tinggi bahwa barang ekspor China tak lahir dari ide asli perancangnya. Aspek inovasi akan terindahkan mengingat China tercatat memiliki kasus pelanggaran dan pembajakan terhadap hak properti intelektual terbesar di dunia. Tindak pemalsuan, peniruan, dan pembajakan yang terjadi pada hampir semua komoditas menempatkan China pada peringkat pertama negara yang memiliki tingkat pembajakan terbesar dunia. Disusul oleh Rusia pada peringkat kedua dan Taiwan pada peringkat ketiga, seperti termuat pada buku Piracy and the State: The Politics of Intellectual Property Rights in China (2009) oleh Martin K. Dimitrov. Istilah Chinese Fake Brands pun muncul yaitu istilah populer yang sering dipakai untuk merujuk pada produk-produk imitasi China.

Menariknya, pembajakan di China bukan bertumbuh subur dengan sendirinya.Dalam buku Counterfeiting and China’s Economic Development , Daniel C.K. Chow mengemukakan adanya dukungan pemerintah lokal terhadap bisnis barang bajakan seperti pada sentra produksi di daerah Selatan China yaitu Guandong dan Provinsi Fujian. Keduanya merupakan penerima foreign direct investment  meski diketahui berasal dari organisasi mafia Hong Kong dan Taiwan. Pemerintah lokal juga berperan sebagai investor seperti yang dilakukan oleh pemerintahan Yiwu dengan mendirikan Zhejiang China Small Comodities City Group (CSCG) tahun 1982. Ini adalah sebuah pasar grosir yang mengkhususkan pada perdagangan komoditas kecil. CSCG terus tumbuh dan menyokong penerimaan pajak oleh pemerintah kota karena CSCG adalah pembayar pajak terbesar serta penyerap tenaga kerja yang signifikan seiring produksinya yang meningkat. Dengan pertimbangan ini, penghentian terhadap produksi barang bajakan hanya akan menimbulkan gejolak sosial dan protes pemerintahan. Sebuah kondisi yang sangat dicemaskan oleh China karena pemerintah sendiri belum bisa menanggung dan memberikan lapangan pekerjaan serta menyejahterakan seluruh penduduknya.

Oleh karenanya, mengabaikan aspek inovasi dari produk mainan China rasanya sah-sah saja. Dalam hal pembajakan mainan, regulasi dan kontrol kualitas dasar yang sangat diutamakan –khususnya oleh negara-negara maju seperti AS dan Eropa– betul-betul ditiadakan. Misalnya dalam hal komposisi ukuran, komponen, kekuatan bahan, penggunaan cat warna, hingga manajemen risiko yang disesuaikan dengan perilaku anak terhadap mainannya. Para pembajak tidak akan perlu repot mengimplementasikan itu semua ke dalam hasil produksinya. Jauh lebih penting untuk fokus pada tampilan serupa yang mirip aslinya tapi dengan proses produksi yang mudah juga murah. Saya sendiri, sebagai konsumen, tidak perlu ambisius untuk mencela produk China. Toh saya punya kendali atas apa yang saya inginkan untuk dimiliki, tidak membabi buta. Terlepas dari harganya yang terjangkau atau tidak, saya mestinya juga punya tanggungjawab untuk menyortir semua mainan yang akan diakses oleh anak-anak saya. Pun mengawasi bagaimana cara mereka memperlakukannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s