Home, Wife, Kids

Nasi Basi

Kamu tahu. Minggu lalu waktu main ke rumah Romo, aku disuruh ikut makan malam. Tahu ndak, nasinya sudah basi!” “Loh, terus?” “Waktu aku nolak, Romo bilang, makan saja. Mubazir kalau dibuang. Ya terpaksa aku ikuti saja perintahnya.” Didit ikutan tersenyum dan tiba tiba teringat nasi basi yang pernah dijumpai satu waktu di rak makan Romo. (Mangun, hlm 277)

Ini adalah sepenggal adegan yang mengesankan saya dari novel Mangun (oleh Sergius Sutanto). Saya diingatkan pada kisah masa sekolah dulu. Jadi saat ingin sarapan, saya nyendok nasi dari piring yang ada di luar penanak nasi. Porsinya masih lumayan banyak, pikir saya, jadi mesti bukan nasi sisa. Dan lagi, rasanya juga belum basi. Namun saat suapan kesekian, kakak saya ngomel. “Kamu makan yang ini? Lah, ini kan basi. Kamu ga bisa bedain apa?”, tanyanya lagi. Garang.

Saya jawab, “Ngga“.

“Emang kamu tuh ga ngerti apa-apa ya!”, tegasnya.

Jujur, saat itu saya tersinggung sangat sehingga masih mengingatnya hingga sekarang. Bukan tersinggung karena ga suka diomeli. Tapi karena omelannya itu lebay, cenderung menyudutkan. Lah kata mama saya, nasi yang saya makan itu dingin, belum sempat dipanasi, tapi ya belum basi. Dan saya, yang ga tegaan ini membuang makanan, tentu tidak akan melewatkan semua nasi dingin itu. Membuang nasi adalah hal yang peluangnya sangat kecil untuk saya lakukan. Meski, memang di rumah saya, sebetulnya tak ada pula istilah membuang makanan. Mama punya banyak binatang peliharaan yang siap menampung sisa-sisa makanan.

Pengalaman sarapan pagi itu membekas  dan tetap saya ingat. Pun, di saat dewasa kami sekarang, kakak saya -yang sok banget- masih kerap membuang nasi dingin  (bukan basi) lantaran tak sempat dimakan. Karena, ia dan keluarganya lebih senang makan di luar.  Sungguh sangat terbalik dengan kisah Romo. Saat tengah membayangkan adegan Romo dalam novel Mangun, saya seolah sedang berhadapan dengan jiwa kejujuran yang tengah melayang-layang di depan mata. Bagaimana seorang Romo yang tak pernah tega membuang makanan, bahkan pernah memakan lem kanji yang tak habis dipakai untuk membuat dekorasi gereja. Dengan garam, dibubuhinya bubur lem kanji lalu dimakan sampai habis. Di lain waktu, saat Romo tinggal di Kali Code juga beberapa kali makan nasi basi, karena dalam prinsipnya, tidak boleh ada makanan terbuang.

Singkat kata, kesederhanaan dan kejujuran Romo mengena sekali pada saya yang punya pengalaman mirip. Saya seperti diajarkan untuk lebih menghargai. Saat saya berani menghidangkan makanan, berapapun porsinya, maka saya juga wajib untuk menghabiskannya. Bagaimanapun caranya. Entah makanan itu dimasak sendiri, ataupun yang dipesan di warung makan. Jika takut tak habis, maka kurangi porsinya, atau pesan secukupnya. Jika pada akhirnya terlanjur pesan banyak atau tak suka rasanya, itupun idealnya tak boleh jadi alasan. Begitu mungkin, ya Romo?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s